|
Jaminan Ekonomi Vs. Tuntutan Ukhrowi |
|
Saturday, 19 December 2009 20:09 |
|
"USAHAMU SUNGGUH-SUNGGUHMU DALAM PERKARA YANG BAGIMU SUDAH ADA JAMINAN, DAN KELALAIANMU DALAM PERKARA YANG DI PERINTAHKAN, ITU MENUNJUKKAN TERHAPUSNYA MATA HATI KAMU". Salah satu perkara yang sudah mendapat jaminan langsung dari Allah bagi hamba Nya adalah masalah rizqi (harta benda), kita akui dengan harta manusia bisa menopang kelangsungan hidup di alam dunia ini. Begitu besar arti dan fungsi materi dan harta (rizqi), namun ada yang lebih besar lagi! dari itu semua, yaitu tanggung jawab Allah SWT Sang Pencipta makhluk untuk menjamin segala kebutuhan dari makhluk tidak manusia saja, melainkan seluruh makhluk ini mulai nabi Adam as. sampai entah kapan nanti yang terakhir di cukupi Nya. Sungguh luar biasa Allah SWT mencukupi semuanya tanpa campur tangan atau bantuan sedikitpun dari siapapun, yang menarik lagi begitu besar kasih sayang Dzat Yang Maha Pemurah, Penyayang ini! Saking besarnya perhatian Allah sehingga tidak pernah memerintah manusia harus berusaha maximal dalam mencari dan memikirkan rizqi, perkembangan ekonomi materi dan harta. Allah SWT hanya memerintah hamba Nya untuk bersyukur, taat, beribadat dan beramal sholih agar mereka bisa mendapatkan nilai keberuntungan, kesejahteraan dalam kehidupan akhirat (bukan di dunia saja), dan bisa dekat di sanding Allah SWT, ternyata kasih sayang dan perhatian Beliau tidak sebatas di dunia saja, di akhirat kelakpun Dia perhitungkan jauh-jauh sebelum makhluk di ciptakan. di antaranya arti keberadaan amal baik merupakan sesuatu yang di perintahkan kepada hamba Nya adalah, manusia di bebani untuk beramal ibadat dengan memenuhi segala persyaratan dan sabab-sabab amal, melakukan tepat pada waktunya. Dengan semua inilah perjalanan sunnatullah dari hamba Nya bisa nampak dan betul-betul terasa.
|
|
Read more...
|
|
|
Tasawuf Jaga Keseimbangan Batin |
|
Saturday, 19 December 2009 19:50 |
|
Tasawuf yang lazim dipraktekkan oleh umat Islam sangat berguna untuk menjaga keseimbangan batin, utamanya di tengah kehidupan modern yang cenderung menjauhkan manusia dari ajaran Tuhan. Demikian dikatakan Habib Luthfi bin Ali bin Yahya di sela-sela Munas Jam’iyyah Ahlit Thariqah al Mu’tabarah An Nahdliyyah di Asrama Haji Pondok Gede beberapa waktu lalu. Agar tetap dalam koridor ajaran agama, kesucian hati dan keseimbangan batin sangat diperlukan untuk menghadapi situasi seperti ini. Ilmu tasawuf membantu mengupayakan agar tetap konsisten dan teguh pada prinsip agama. “Dengan belajar ilmu tasawuf, kita ini seperti ikan yang hidup di laut, tetapi kita tetap tidak asin, tetap memiliki prinsip dan kepribadian,” kata Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, rais aam Jam’iyyah Ahlit Thariqah al Mu’tabarah An Nahdliyyah, organisasi tarekat di bawah naungan NU.
|
|
Read more...
|
|
|
Tradisi Santri Kelana dan Tradisi Berdebat |
|
Wednesday, 28 October 2009 22:05 |
|
sumber lokal banyak menyebutkan adanya santri kelana dan tradisi berdebat dilingkungan pesantren pada abad ke 16-18. Keinginan untuk mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya dari guru atau kyai mendorong para santri berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Tradisi berkelabna ini selain untuk mempraktekan ilmu yang telah di peroleh juga untuk mencari guru atau kyai guna melengkapi ilmunya. Kebiasaan mengembara ini telah berlangsung pada masa kehidupan para wali. Babad menceritakan Raden Sahid berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain hampir sepanjang daerah pesisir jawa untuk mengejar wejangan dari Sunan Bonang.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 2 |