|
Tradisi Santri Kelana dan Tradisi Berdebat |
|
Wednesday, 28 October 2009 22:05 |
|
sumber lokal banyak menyebutkan adanya santri kelana dan tradisi berdebat dilingkungan pesantren pada abad ke 16-18. Keinginan untuk mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya dari guru atau kyai mendorong para santri berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Tradisi berkelabna ini selain untuk mempraktekan ilmu yang telah di peroleh juga untuk mencari guru atau kyai guna melengkapi ilmunya. Kebiasaan mengembara ini telah berlangsung pada masa kehidupan para wali. Babad menceritakan Raden Sahid berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain hampir sepanjang daerah pesisir jawa untuk mengejar wejangan dari Sunan Bonang.
Tradisi berdebat atau musyawarah di lingkungan pesantren pada hakekatnya telah berlaku pada masa wali songo (wali sembilan). Perdebatan antara kaum santri ahli sunnah wal jamaah atau pembela syari'at (ortodoks) di bawah pimpinan dewan wali sembilan pada satu pihak dan kaum pendukung panteisme (heterodoks) di bawah syeh siti jenar pada pihak lain, merupakan ciri sosio-kultural-relegius di Jawa pada abad ke 16. Tradisi pertentangan antara dua golongan tersebut juga berlanjut pada masa kehidupan Seh Among Raga, demikian juga tradisi perdebatan berlanjut sampai pada masa kerajaan kartasura pada abad ke 18, sebagaimana tercermin dalam peristiwa perdebatan antara Haji Mutamakin (penganut ilmu hakekat) dari desa cibolek dengan Ketib Anom Kudus ulama dari kraton Kartasura (penganut syari'ah) sebagaiman yang dituturkan serat cibolek. Perdebatan itu di menangkan oleh penganut Syari'ah, sehingga pihak yang kalah harus menerimah hukuman karena di anggap telah melanggar hukum. Syeh Siti Jenar, Syeh Among Raga, Sunan Panggung dan Haji Mutamakin merupakan orang-orang yang telah di anggap mengajarkan ajaran yang sesat (bid'ah), sehingga harus berhadapan dengan golongan yang mayoritas dan mantap, yaitu kaum penguasa pemegang ajaran hukum agama yang lurus (ortodoks) yaitu Syari'ah.
|